Latest Updates
Wednesday, July 15, 2015
Monday, July 13, 2015
Posted By:
Google +
Kelegaan Tukang Bubur Setelah Bayinya Dioperasi Lewat Bantuan Bupati
Jakarta - Harmoko, seorang tukang bubur di Purwakarta bisa bernafas lega. Anaknya, bayi berusia satu bulan yang mengidap kelainan pada perutnya, sudah dioperasi.
Bayi laki-laki yang sampai saat ini belum diberi nama itu lahir 11 Juni lalu. Sejak hari kelahirannya, sudah terdeteksi adanya kelainan pada perut si bayi yakni mengidap Meconium Plug Syndrome.
Dokter menyatakan bayi tersebut harus menjalani operasi. Ini yang membuat Harmoko kebingungan.
"Saya awalnya sangat kebingungan, gimana itu caranya bisa mendapatkan uang untuk operasi. Sampai puluhan juta," ujar Harmoko, Kamis (9/7/2015).
Untuk meminjam uang ke tetangga pun, Harmoko tidak enak hati. Hal itu disebabkan karena uang yang diperlukan cukup banyak.
"Dan tetangga-tetangga kan juga punya kebutuhan sendiri," ujar Harmoko.
Akhirnya Harmoko meminta bantuan kepada donatur, dengan cara menyebar informasi mengenai kondisi anaknya. Redaksi detikcom yang mendapatkan informasi tersebut mengkonfirmasi ke Harmoko dan memberitakannya.
"Tak lama setelah itu saya didatangi staf Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Staf ini bilang Pak bupati akan menanggung seluruh biaya operasi. Pak bupati tahu dari berita di detik," kata Harmoko.
Kemudian Harmoko meminta rekening yang tadinya dimuat dalam artikel berita, ditutup. Dan benar, bayi tersebut kini sudah diperbolehkan pulang karena sudah menjalani operasi tahap pertama.
Bayi itu sendiri sampai Rabu (8/7) kemarin belum juga diberi nama karena Harmoko masih diliputi rasa cemas akan kondisi anaknya.
"Diperbolehkan pulang karena urusan administrasi di rumah sakit sudah dijamin oleh Pak Bupati. Terima kasih pak bupati dan juga detik," kata Harmoko.
Anda punya pengalaman menarik setelah diberitakan oleh detikcom? Perubahan positif apa yang dirasakan? Silakan kirim cerita ke redaksi@detik.com. Jangan lupa sertakan kontak Anda.
(bag/faj)
Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" selama Ramadan pukul 00.30 - 01.30 WIB, hanya di Trans TV
Inilah media indonesia yang mengulas dan mennyajikan tentang detiknews, detiksport, detikhot, detikhealt, detikforum untuk hiburan semata, semoga bermanfaat, dan terima kasih
Bayi laki-laki yang sampai saat ini belum diberi nama itu lahir 11 Juni lalu. Sejak hari kelahirannya, sudah terdeteksi adanya kelainan pada perut si bayi yakni mengidap Meconium Plug Syndrome.
Dokter menyatakan bayi tersebut harus menjalani operasi. Ini yang membuat Harmoko kebingungan.
"Saya awalnya sangat kebingungan, gimana itu caranya bisa mendapatkan uang untuk operasi. Sampai puluhan juta," ujar Harmoko, Kamis (9/7/2015).
Untuk meminjam uang ke tetangga pun, Harmoko tidak enak hati. Hal itu disebabkan karena uang yang diperlukan cukup banyak.
"Dan tetangga-tetangga kan juga punya kebutuhan sendiri," ujar Harmoko.
Akhirnya Harmoko meminta bantuan kepada donatur, dengan cara menyebar informasi mengenai kondisi anaknya. Redaksi detikcom yang mendapatkan informasi tersebut mengkonfirmasi ke Harmoko dan memberitakannya.
"Tak lama setelah itu saya didatangi staf Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Staf ini bilang Pak bupati akan menanggung seluruh biaya operasi. Pak bupati tahu dari berita di detik," kata Harmoko.
Kemudian Harmoko meminta rekening yang tadinya dimuat dalam artikel berita, ditutup. Dan benar, bayi tersebut kini sudah diperbolehkan pulang karena sudah menjalani operasi tahap pertama.
Bayi itu sendiri sampai Rabu (8/7) kemarin belum juga diberi nama karena Harmoko masih diliputi rasa cemas akan kondisi anaknya.
"Diperbolehkan pulang karena urusan administrasi di rumah sakit sudah dijamin oleh Pak Bupati. Terima kasih pak bupati dan juga detik," kata Harmoko.
Anda punya pengalaman menarik setelah diberitakan oleh detikcom? Perubahan positif apa yang dirasakan? Silakan kirim cerita ke redaksi@detik.com. Jangan lupa sertakan kontak Anda.
(bag/faj)
Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" selama Ramadan pukul 00.30 - 01.30 WIB, hanya di Trans TV
Inilah media indonesia yang mengulas dan mennyajikan tentang detiknews, detiksport, detikhot, detikhealt, detikforum untuk hiburan semata, semoga bermanfaat, dan terima kasih
Posted By:
Google +
Kisah Sukses Wahyudin, Pemulung Ganteng yang Kini S2 di ITB
Jakarta - Peran media dalam memberikan informasi positif sangat bermakna dari seorang Wahyudin (24) yang pernah 'berprofesi' sebagai pemulung selama 12 tahun. Kini pemuda tampan itu tengah menyelesaikan studi magister di ITB dan segera menatap kuliah S3 di luar negeri.
"Cerita saya dimuat di media dan saya terima kasih sekali sama detikcom, Alhamdulillah saya dapat respons yang positif dari teman-teman di luar sana. Banyak para pembaca yang terinspirasi dengan cerita saya, mereka jadi lebih semangat untuk mengejar pindidikan, misalnya ada yang kirim surat dari Makassar ada juga yang sms, ada yang bilang berita saya di detikcom di-print terus ditempel di tembok mereka. Jadi setiap mereka malas belajar, mereka baca itu jadi mereka semangat lagi," ungkap Wahyu saat berbincang kembali dengan detikcom, Kamis (9/7/2015).
Awal cerita Wahyu dimuat oleh media waktu itu adalah pada tahun 2013, saat dia masih memulung demi membayar biaya kuliah S1 di UHAMKA. Dia mengambil jurusan manajemen waktu itu.
Dia pun bercerita bahwa aktifitas memulung dilakukan sejak duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar. Memulung sejak dini hari pukul 02.00 WIB sampai waktu salat shubuh setiap hari, kemudian bersiap sekolah sambil jualan gorengan.
Sepulang sekolah beristirahat sebentar hingga sore, lalu kembali memulung hingga pukul 22.00 WIB. Beristirahatlah dia di tempat memulung berpayung bintang-bintang dan ditemani rembulan. Hingga pukul 02.00 WIB dia lanjutkan lagi pekerjaannya dan terus hingga tahun 2013.
Rasa kantuk di kelas dia lawan dengan bantuan minyak kayu putih dan balsam yang dioleskan dekat mata agar melek. Tetapi jalan hidupnya kemudian berubah setelah banyak orang kenal dirinya di detikcom.
Ada yang kemudian memberi modal untuk dia gunakan beternak entok, hingga ada pula yang bersedia menjadi orang tua angkat. Dia menganggap pihak-pihak yang memberikan kepada dia sebagai orang tua angkat, termasuk keluarga Ustad Husen Alatas.
"Saya pernah dikasih uang dari Australia, dia orang Indonesia suaminya Australia. Dia cuma baca dari detikcom terus hubungi saya di facebook, enggak pernah tatap muka, dia bantu untuk peternakan sekitar Rp 4 juta. Jadi peternakan itu modalnya dari (salah satu) orang tua angkat, dari orang di Australia," kata dia.
Semangat Wahyu untuk belajar pun menarik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan beasiswa S2 di program Magister of Bussiness Administration (MBA) ITB. Sebenarnya dia pun ditawari untuk mengambil S2 di luar negeri tanpa tes karena prestasi dan semangat belajarnya.
"Dari saya pribadi setelah muncul di detikcom itu saya banyak dikenal orang dan dari Kemendikbud datang ke rumah saya. Salah satu stafnya mengatakan, saya dapat beasiswa unggulan walau tanpa tes, saya boleh kuliah di luar negeri bebas pilih negara mana aja. Saya memang ingin sekali kuliah di luar negeri, tapi saya bertanya lagi di hati saya yang paling dalam, saya belum umroh, saya punya cita-cita, negara pertama yang harus saya datangi adalah Arab Saudi, saya ingin ke Mekah," tutur dia.
Maka itu dia kemudian memilih program magister di dalam negeri dan dites bahasa Inggris. Kehidupannya benar-benar berubah dan dia berniat melanjutkan studinya ke S3.
"Semoga detikcom selalu memberi pengetahuan bagi pembacanya. Semoga selalu menginspirasi dan memotivasi para pembacanya," ungkap Wahyu mendoakan agar detikcom mantap, tepat di hari jadi yang ke-17 pada hari ini.
(bag/van)
Inilah media indonesia yang mengulas dan mennyajikan tentang detiknews, detiksport, detikhot, detikhealt, detikforum untuk hiburan semata, semoga bermanfaat, dan terima kasih
"Cerita saya dimuat di media dan saya terima kasih sekali sama detikcom, Alhamdulillah saya dapat respons yang positif dari teman-teman di luar sana. Banyak para pembaca yang terinspirasi dengan cerita saya, mereka jadi lebih semangat untuk mengejar pindidikan, misalnya ada yang kirim surat dari Makassar ada juga yang sms, ada yang bilang berita saya di detikcom di-print terus ditempel di tembok mereka. Jadi setiap mereka malas belajar, mereka baca itu jadi mereka semangat lagi," ungkap Wahyu saat berbincang kembali dengan detikcom, Kamis (9/7/2015).
Awal cerita Wahyu dimuat oleh media waktu itu adalah pada tahun 2013, saat dia masih memulung demi membayar biaya kuliah S1 di UHAMKA. Dia mengambil jurusan manajemen waktu itu.
Dia pun bercerita bahwa aktifitas memulung dilakukan sejak duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar. Memulung sejak dini hari pukul 02.00 WIB sampai waktu salat shubuh setiap hari, kemudian bersiap sekolah sambil jualan gorengan.
Sepulang sekolah beristirahat sebentar hingga sore, lalu kembali memulung hingga pukul 22.00 WIB. Beristirahatlah dia di tempat memulung berpayung bintang-bintang dan ditemani rembulan. Hingga pukul 02.00 WIB dia lanjutkan lagi pekerjaannya dan terus hingga tahun 2013.
Rasa kantuk di kelas dia lawan dengan bantuan minyak kayu putih dan balsam yang dioleskan dekat mata agar melek. Tetapi jalan hidupnya kemudian berubah setelah banyak orang kenal dirinya di detikcom.
Ada yang kemudian memberi modal untuk dia gunakan beternak entok, hingga ada pula yang bersedia menjadi orang tua angkat. Dia menganggap pihak-pihak yang memberikan kepada dia sebagai orang tua angkat, termasuk keluarga Ustad Husen Alatas.
"Saya pernah dikasih uang dari Australia, dia orang Indonesia suaminya Australia. Dia cuma baca dari detikcom terus hubungi saya di facebook, enggak pernah tatap muka, dia bantu untuk peternakan sekitar Rp 4 juta. Jadi peternakan itu modalnya dari (salah satu) orang tua angkat, dari orang di Australia," kata dia.
Semangat Wahyu untuk belajar pun menarik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan beasiswa S2 di program Magister of Bussiness Administration (MBA) ITB. Sebenarnya dia pun ditawari untuk mengambil S2 di luar negeri tanpa tes karena prestasi dan semangat belajarnya.
"Dari saya pribadi setelah muncul di detikcom itu saya banyak dikenal orang dan dari Kemendikbud datang ke rumah saya. Salah satu stafnya mengatakan, saya dapat beasiswa unggulan walau tanpa tes, saya boleh kuliah di luar negeri bebas pilih negara mana aja. Saya memang ingin sekali kuliah di luar negeri, tapi saya bertanya lagi di hati saya yang paling dalam, saya belum umroh, saya punya cita-cita, negara pertama yang harus saya datangi adalah Arab Saudi, saya ingin ke Mekah," tutur dia.
Maka itu dia kemudian memilih program magister di dalam negeri dan dites bahasa Inggris. Kehidupannya benar-benar berubah dan dia berniat melanjutkan studinya ke S3.
"Semoga detikcom selalu memberi pengetahuan bagi pembacanya. Semoga selalu menginspirasi dan memotivasi para pembacanya," ungkap Wahyu mendoakan agar detikcom mantap, tepat di hari jadi yang ke-17 pada hari ini.
(bag/van)
Inilah media indonesia yang mengulas dan mennyajikan tentang detiknews, detiksport, detikhot, detikhealt, detikforum untuk hiburan semata, semoga bermanfaat, dan terima kasih
Posted By:
Google +
Reza Si 'Jokowi KW', Dari Kuli Bangunan Kini Jadi 'Bintang Iklan'
Jakarta - Perjalanan hidup seseorang memang tak bisa ditebak, begitu juga bagi Reza Srimulyadi (33) yang seorang buruh bangunan. Malam itu sekitar dua tahun lalu adalah kali pertama Reza diwawancarai kisah hidupnya oleh detikcom.
"Saya berterima kasih sekali waktu itu diwawancara sama detikcom. Sejak saat itu jadi banyak yang wawancarai saya mulai dari media online, koran, televisi, dan lain-lain. Sejak itu jadi banyak berubah," ungkap Reza saat berbincang kembali dengan detikcom, Kamis (9/7/2015).
Sebelum berbagi cerita pada Selasa, 14 Mei 2013 silam itu memang Reza sudah menjadi model iklan salah satu perguruan tinggi swasta. Wajahnya yang mirip dengan sosok Joko Widodo yang kini menjadi Presiden RI, membuat dirinya mudah dikenali.
detikcom berhasil menemui Reza dengan menelusuri informasi dari production house yang mengorbitkan dia di iklan tersebut. Saat itu petunjuknya adalah Reza bekerja sebagai buruh bangunan di sekitar Taman Situ Lembang, Menteng, Jakarta Pusat.
Awalnya agak sulit mencari Reza dengan hanya berbekal petunjuk itu, ditambah lagi saat itu langit sudah gelap. Sekali memutari danau di tengah taman itu, tiba-tiba muncul sosok Reza keluar dari rumah besar yang sedang dibangun.
Wajahnya mudah dikenali karena wajahnya sangat mirip dengan Jokowi. Dia pun sangat terbuka ketika akan diwawancarai dan bercerita panjang lebar tentang kisah hidupnya.
"detikcom yang pertama kali wawancara saya, mengangkat cerita saya, sampai akhirnya banyak perusahaan yang mengontrak saya untuk jadi bintang iklan," kata dia sambil mengenang momen itu.
Meski membintangi sejumlah iklan, dia tak lupa akan pekerjaan utamanya sebagai kuli bangunan. Dia sudah berkomitmen untuk bekerja di situ hingga rumah megah tersebut ditempati empunya rumah.
Pada masa kampanye tahun lalu dia pun sempat ditawari untuk menjadi jurkam salah satu partai rival Jokowi. Tetapi dia menolaknya lantaran komitmen Reza adalah bekerja menjadi kuli bangunan di tempat itu.
"Sekarang saya masih menunggui rumah ini walau pun sudah jadi. Kalau iklannya sementara dihentikan dulu karena yang bikin iklan takut dianggap melecehkan Presiden, he he he. Tapi saya tetap berterima kasih," ujar dia.
Saat berbincang kembali suaranya masih tetap penuh semangat. Sesekali canda pun terselip dan tak ada yang berubah dari sikapnya itu meskipun sempat tenar di layar kaca dan jadi media darling.
"Selamat ulang tahun buat detikcom yang ke 17, semoga semakin bisa jadi inspirasi semua orang," ucap dia kemudian.
Inilah media indonesia yang mengulas dan mennyajikan tentang detiknews, detiksport, detikhot, detikhealt, detikforum untuk hiburan semata, semoga bermanfaat, dan terima kasih
"Saya berterima kasih sekali waktu itu diwawancara sama detikcom. Sejak saat itu jadi banyak yang wawancarai saya mulai dari media online, koran, televisi, dan lain-lain. Sejak itu jadi banyak berubah," ungkap Reza saat berbincang kembali dengan detikcom, Kamis (9/7/2015).
Sebelum berbagi cerita pada Selasa, 14 Mei 2013 silam itu memang Reza sudah menjadi model iklan salah satu perguruan tinggi swasta. Wajahnya yang mirip dengan sosok Joko Widodo yang kini menjadi Presiden RI, membuat dirinya mudah dikenali.
detikcom berhasil menemui Reza dengan menelusuri informasi dari production house yang mengorbitkan dia di iklan tersebut. Saat itu petunjuknya adalah Reza bekerja sebagai buruh bangunan di sekitar Taman Situ Lembang, Menteng, Jakarta Pusat.
Awalnya agak sulit mencari Reza dengan hanya berbekal petunjuk itu, ditambah lagi saat itu langit sudah gelap. Sekali memutari danau di tengah taman itu, tiba-tiba muncul sosok Reza keluar dari rumah besar yang sedang dibangun.
Wajahnya mudah dikenali karena wajahnya sangat mirip dengan Jokowi. Dia pun sangat terbuka ketika akan diwawancarai dan bercerita panjang lebar tentang kisah hidupnya.
"detikcom yang pertama kali wawancara saya, mengangkat cerita saya, sampai akhirnya banyak perusahaan yang mengontrak saya untuk jadi bintang iklan," kata dia sambil mengenang momen itu.
Meski membintangi sejumlah iklan, dia tak lupa akan pekerjaan utamanya sebagai kuli bangunan. Dia sudah berkomitmen untuk bekerja di situ hingga rumah megah tersebut ditempati empunya rumah.
Pada masa kampanye tahun lalu dia pun sempat ditawari untuk menjadi jurkam salah satu partai rival Jokowi. Tetapi dia menolaknya lantaran komitmen Reza adalah bekerja menjadi kuli bangunan di tempat itu.
"Sekarang saya masih menunggui rumah ini walau pun sudah jadi. Kalau iklannya sementara dihentikan dulu karena yang bikin iklan takut dianggap melecehkan Presiden, he he he. Tapi saya tetap berterima kasih," ujar dia.
Saat berbincang kembali suaranya masih tetap penuh semangat. Sesekali canda pun terselip dan tak ada yang berubah dari sikapnya itu meskipun sempat tenar di layar kaca dan jadi media darling.
"Selamat ulang tahun buat detikcom yang ke 17, semoga semakin bisa jadi inspirasi semua orang," ucap dia kemudian.
Inilah media indonesia yang mengulas dan mennyajikan tentang detiknews, detiksport, detikhot, detikhealt, detikforum untuk hiburan semata, semoga bermanfaat, dan terima kasih
Posted By:
Google +
Ini Alasan NasDem Usung Istri Ketiga Eks Bupati Kediri di Pilkada
Jakarta - Partai NasDem menjadi kendaraan politik bagi Sayekti untuk maju di Pilkada Kabupaten Kediri. NasDem punya alasan tersendiri dalam mengusung istri ketiga mantan Bupati Kediri tersebut.
"Tidak mungkin NasDem menolak calon yang kredibilitasnya baik dan disenangi masyarakat. Ya kita calonkan," kata Sekretaris F-NasDem di DPR, Syarif Abdullah Alkadrie saat dihubungi, Senin (13/7/2015).
Sayekti maju di Pilkada setelah ada jeda 1 periode dari masa kepemimpinan suaminya, Sutrisno yang merupakan mantan Bupati Kediri. Karena ada jeda 1 periode tersebut, menurut Syarif, maka tidak masalah bila Sayekti maju. Lagipula, MK sudah membatalkan larangan keluarga petahana maju di Pilkada.
"Tidak ada masalah, kan sudah ada jeda 5 tahun. Ya dibolehkan, tidak ada masalah. Kemarin kan MK membatalkan lagi keputusan itu," ucap anggota Komisi II DPR ini.
Syarif menegaskan bahwa NasDem tidak ada niat menyuburkan politik dinasti. Hanya saja, sudah ada putusan MK yang membolehkan.
"Kita sudah buat hal itu lewat UU Pilkada tapi dibatalkan oleh MK, dengan pertimbangan persoalan HAM. Kalau membatasi, nanti kita dianggap melanggar HAM juga," jelas Ketua DPW NasDem Kalbar ini.
Ada 3 srikandi yang bersaing di Pilkada Kabupaten Kediri. Yang pertama adalah bupati incumbent yang merupakan istri pertama mantan Bupati Kediri, Hariyanti yang maju diusung PDIP. Yang kedua adalah Sayekti bersama NasDem, sementara itu ada pula Aisya Ulfa Syafii. Selain itu, ada artis Hengki Kurniawan yang didorong oleh PAN.
(imk/tor)
Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" selama Ramadan pukul 00.30 - 01.30 WIB, hanya di Trans TV
Inilah media indonesia yang mengulas dan mennyajikan tentang detiknews, detiksport, detikhot, detikhealt, detikforum untuk hiburan semata, semoga bermanfaat, dan terima kasih
"Tidak mungkin NasDem menolak calon yang kredibilitasnya baik dan disenangi masyarakat. Ya kita calonkan," kata Sekretaris F-NasDem di DPR, Syarif Abdullah Alkadrie saat dihubungi, Senin (13/7/2015).
Sayekti maju di Pilkada setelah ada jeda 1 periode dari masa kepemimpinan suaminya, Sutrisno yang merupakan mantan Bupati Kediri. Karena ada jeda 1 periode tersebut, menurut Syarif, maka tidak masalah bila Sayekti maju. Lagipula, MK sudah membatalkan larangan keluarga petahana maju di Pilkada.
"Tidak ada masalah, kan sudah ada jeda 5 tahun. Ya dibolehkan, tidak ada masalah. Kemarin kan MK membatalkan lagi keputusan itu," ucap anggota Komisi II DPR ini.
Syarif menegaskan bahwa NasDem tidak ada niat menyuburkan politik dinasti. Hanya saja, sudah ada putusan MK yang membolehkan.
"Kita sudah buat hal itu lewat UU Pilkada tapi dibatalkan oleh MK, dengan pertimbangan persoalan HAM. Kalau membatasi, nanti kita dianggap melanggar HAM juga," jelas Ketua DPW NasDem Kalbar ini.
Ada 3 srikandi yang bersaing di Pilkada Kabupaten Kediri. Yang pertama adalah bupati incumbent yang merupakan istri pertama mantan Bupati Kediri, Hariyanti yang maju diusung PDIP. Yang kedua adalah Sayekti bersama NasDem, sementara itu ada pula Aisya Ulfa Syafii. Selain itu, ada artis Hengki Kurniawan yang didorong oleh PAN.
(imk/tor)
Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" selama Ramadan pukul 00.30 - 01.30 WIB, hanya di Trans TV
Inilah media indonesia yang mengulas dan mennyajikan tentang detiknews, detiksport, detikhot, detikhealt, detikforum untuk hiburan semata, semoga bermanfaat, dan terima kasih
Posted By:
Google +
Saat Sutrisno Menangkan Permaisuri dan Empaskan 'Selir' di Pilkada Kediri
Jakarta - Sesuai aturan, Sutrisno yang sudah dua kali menjabat, tak boleh lagi maju sebagai bupati Kediri. Dia mengajukan dua istrinya, istri sah dan istri siri. Tentu saja, hanya satu yang menang. Dan itu adalah istri sah. Ada tangan dingin Sutrisno di balik kemenangan itu.
Sutrisno lengser pada 2009 silam. Istri pertamanya, Haryanti Sutrisno (66), maju menggantikan posisinya. Haryanti berpasangan dengan Masykuri dan diusung PDIP, Golkar, PPP, Hanura, dan PKNU. Perempuan kelahiran Malang ini bertarung melawan istri siri suaminya, Nurlaila (55), yang berpasangan dengan Turmudzi. Nurlaila dan Turmudzi diusung PAN, Gerindra, dan enam parpol nonparlemen.
Ada satu pasangan lainnya, yakni Sunardi-Sulaiman. Keduanya diusung Demokrat, PKB, PKS, dan Partai Bulan Bintang (nonparlemen).
Di antara 2 istri, ke mana dukungan Sutrisno diarahkan? Selama kampanye pilkada, orang kuat di Kabupaten Kediri itu selalu mendampingi Haryanti. Ia juga tampil di alat peraga seperti baliho, spanduk, dan lain sebagainya.
Saat pencoblosan, 12 Mei 2010, Sutrisno 'mengawal' kemenangan Haryanti. Sementara kondisi berbeda dialami Nurlaila. Oleh Sutrisno, kepala desa di Kecamatan Wates ini dilepas begitu saja.
Tiga pasangan berebut suara 1.173.325 pemilih di 2.600 TPS. Hasilnya, Hariyanti dan Masykuri menang telak. Keduanya menguasai 24 dari 26 kecamatan di Kabupaten Kediri. Perolehan suara Haryanti dan Masykuri hanya kalah dari pasangan Sunardi-Sulaiman di Kecamatan Pare dan Semen.
Nah, tahun ini, Haryanti kembali maju. Dia sudah mendapatkan restu dari ketua DPC PDIP Kediri yang juga suaminya, Sutrisno. Nurlaila tidak. Posisinya digantikan istri Sutrisno yang lain.
"Ketiga srikandi yang akan maju di Pilkada Kediri adalah incumbent yakni istri pertama mantan Bupati Kediri Sutrisno, dr Hariyanti, yang maju bersama PDIP, dan kedua adalah Sayekti istri ke 3 Sutrisno diusung partai NasDem, yang periode lima tahun lalu istri ke dua bupati juga ikut masuk bursa pencalonan bupati Kediri, yang ketiga adalah Aisya Ulfa Syafii perempuan biasa yang akan maju dengan dukungan dari masyarkat," kata Aisya dalam keterangan kepada wartawan, Senin (13/7/2015).
Asisya adalah direktur eksekutif GOZIS (Gerakan Orang Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf). Dia berniat maju melalui Partai Golkar. Selain itu, ada nama artis Hengki Kurniawan. Baliho artis kelahiran Blitar itu terpasang di berbagai sudut kabupaten Kediri.
Dukungan Sutrisno kemungkinan akan tetap ke permaisuri, bukan ke Sayekti. Tapi apakah dukungan itu akan memenangkan Haryanti? Atau sebaliknya, angin perubahan akan berembus di Kediri dan dinasti politik itu akan tumbang?
(try/van)
Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" selama Ramadan pukul 00.30 - 01.30 WIB, hanya di Trans TV
Inilah media indonesia yang mengulas dan mennyajikan tentang detiknews, detiksport, detikhot, detikhealt, detikforum untuk hiburan semata, semoga bermanfaat, dan terima kasih
Sutrisno lengser pada 2009 silam. Istri pertamanya, Haryanti Sutrisno (66), maju menggantikan posisinya. Haryanti berpasangan dengan Masykuri dan diusung PDIP, Golkar, PPP, Hanura, dan PKNU. Perempuan kelahiran Malang ini bertarung melawan istri siri suaminya, Nurlaila (55), yang berpasangan dengan Turmudzi. Nurlaila dan Turmudzi diusung PAN, Gerindra, dan enam parpol nonparlemen.
Ada satu pasangan lainnya, yakni Sunardi-Sulaiman. Keduanya diusung Demokrat, PKB, PKS, dan Partai Bulan Bintang (nonparlemen).
Di antara 2 istri, ke mana dukungan Sutrisno diarahkan? Selama kampanye pilkada, orang kuat di Kabupaten Kediri itu selalu mendampingi Haryanti. Ia juga tampil di alat peraga seperti baliho, spanduk, dan lain sebagainya.
Saat pencoblosan, 12 Mei 2010, Sutrisno 'mengawal' kemenangan Haryanti. Sementara kondisi berbeda dialami Nurlaila. Oleh Sutrisno, kepala desa di Kecamatan Wates ini dilepas begitu saja.
Tiga pasangan berebut suara 1.173.325 pemilih di 2.600 TPS. Hasilnya, Hariyanti dan Masykuri menang telak. Keduanya menguasai 24 dari 26 kecamatan di Kabupaten Kediri. Perolehan suara Haryanti dan Masykuri hanya kalah dari pasangan Sunardi-Sulaiman di Kecamatan Pare dan Semen.
Nah, tahun ini, Haryanti kembali maju. Dia sudah mendapatkan restu dari ketua DPC PDIP Kediri yang juga suaminya, Sutrisno. Nurlaila tidak. Posisinya digantikan istri Sutrisno yang lain.
"Ketiga srikandi yang akan maju di Pilkada Kediri adalah incumbent yakni istri pertama mantan Bupati Kediri Sutrisno, dr Hariyanti, yang maju bersama PDIP, dan kedua adalah Sayekti istri ke 3 Sutrisno diusung partai NasDem, yang periode lima tahun lalu istri ke dua bupati juga ikut masuk bursa pencalonan bupati Kediri, yang ketiga adalah Aisya Ulfa Syafii perempuan biasa yang akan maju dengan dukungan dari masyarkat," kata Aisya dalam keterangan kepada wartawan, Senin (13/7/2015).
Asisya adalah direktur eksekutif GOZIS (Gerakan Orang Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf). Dia berniat maju melalui Partai Golkar. Selain itu, ada nama artis Hengki Kurniawan. Baliho artis kelahiran Blitar itu terpasang di berbagai sudut kabupaten Kediri.
Dukungan Sutrisno kemungkinan akan tetap ke permaisuri, bukan ke Sayekti. Tapi apakah dukungan itu akan memenangkan Haryanti? Atau sebaliknya, angin perubahan akan berembus di Kediri dan dinasti politik itu akan tumbang?
(try/van)
Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" selama Ramadan pukul 00.30 - 01.30 WIB, hanya di Trans TV
Inilah media indonesia yang mengulas dan mennyajikan tentang detiknews, detiksport, detikhot, detikhealt, detikforum untuk hiburan semata, semoga bermanfaat, dan terima kasih
Posted By:
Google +
Pertarungan Sengit Istri Muda dan Istri Tua Eks Bupati Kediri
Jakarta - Rupanya tiga istri eks Bupati Kediri Sutrisno juga politisi ulung. Saat mereka bertarung di Pilkada, meski satu dinasti politik, tetap saja terlibat pertarungan yang panas.
"Cerita politik dinasti ini kan sebenarnya sudah terdengar tahun 2010 lalu menjelang Pilkada," kata Aisya Ulfa Syafii, calon Bupati Kediri dari Golkar yang berupaya menumbangkan dinasti politik yang sudah mengakar belasan tahun tersebut, saat berbincang dengan wartawan, Senin (13/7/2015).
Saat itu istri pertama Sutrisno, Hariyanti bertarung dengan madunya, Nurlaila. Pertarungan pun berlangsung sengit, bak dua kubu yang bertarung serius memperebutkan kursi Bupati Kediri. Seolah mereka berdua tak punya seorang suami yang sama yakni Sutrisno.
"Mbok Nom sama Mbok Wek tukaran (istri muda sama istri tua ribut). Kan sama-sama melawan," kata Aisya yang saat itu banyak ditanya orang seputar pertarungan nyentrik politik dinasti Kediri itu.
Perang dingin 2 istri bupati Kediri dalam proses pencalonan pemilihan bupati periode 2010-2015 itu pun berlangsung panas, bahkan kadang diwarnai kericuhan. Keduanya menolak saling jabat tangan dalam kegiatan debat calon bupati dan wakil bupati.
Namun pada akhirnya sang Mbok Wek yang menang. Itu pun karena sang suami tercinta, Sutrisno, meminta sang istri muda mengalah.
"Akhirnya kan yang muda disuruh mundur, tapi namanya politik kan kita nggak tahu ya apa itu strategi," kata Aisya mengakhiri cerita politik dinasti yang kembali terulang menjelang Pilkada 2015 nanti.
Memang yang akan berlaga di 2015 tak ada lagi Nurlaila sang istri kedua yang kalah di Pilkada 2010. Namun ada Sayekti istri ketiga Sutrisno yang akan berlaga di Pilkada. Apakah warga Kediri akan diam saja dipertontonkan politik dinasti semacam ini?
(van/try)
Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" selama Ramadan pukul 00.30 - 01.30 WIB, hanya di Trans TV
Inilah media indonesia yang mengulas dan mennyajikan tentang detiknews, detiksport, detikhot, detikhealt, detikforum untuk hiburan semata, semoga bermanfaat, dan terima kasih
"Cerita politik dinasti ini kan sebenarnya sudah terdengar tahun 2010 lalu menjelang Pilkada," kata Aisya Ulfa Syafii, calon Bupati Kediri dari Golkar yang berupaya menumbangkan dinasti politik yang sudah mengakar belasan tahun tersebut, saat berbincang dengan wartawan, Senin (13/7/2015).
Saat itu istri pertama Sutrisno, Hariyanti bertarung dengan madunya, Nurlaila. Pertarungan pun berlangsung sengit, bak dua kubu yang bertarung serius memperebutkan kursi Bupati Kediri. Seolah mereka berdua tak punya seorang suami yang sama yakni Sutrisno.
"Mbok Nom sama Mbok Wek tukaran (istri muda sama istri tua ribut). Kan sama-sama melawan," kata Aisya yang saat itu banyak ditanya orang seputar pertarungan nyentrik politik dinasti Kediri itu.
Perang dingin 2 istri bupati Kediri dalam proses pencalonan pemilihan bupati periode 2010-2015 itu pun berlangsung panas, bahkan kadang diwarnai kericuhan. Keduanya menolak saling jabat tangan dalam kegiatan debat calon bupati dan wakil bupati.
Namun pada akhirnya sang Mbok Wek yang menang. Itu pun karena sang suami tercinta, Sutrisno, meminta sang istri muda mengalah.
"Akhirnya kan yang muda disuruh mundur, tapi namanya politik kan kita nggak tahu ya apa itu strategi," kata Aisya mengakhiri cerita politik dinasti yang kembali terulang menjelang Pilkada 2015 nanti.
Memang yang akan berlaga di 2015 tak ada lagi Nurlaila sang istri kedua yang kalah di Pilkada 2010. Namun ada Sayekti istri ketiga Sutrisno yang akan berlaga di Pilkada. Apakah warga Kediri akan diam saja dipertontonkan politik dinasti semacam ini?
(van/try)
Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" selama Ramadan pukul 00.30 - 01.30 WIB, hanya di Trans TV
Inilah media indonesia yang mengulas dan mennyajikan tentang detiknews, detiksport, detikhot, detikhealt, detikforum untuk hiburan semata, semoga bermanfaat, dan terima kasih
Subscribe to:
Comments (Atom)



